Rabu, 30 November 2011
What I've Learned from AYSF: That I Still Need to Learn About Etiquette
Inilah salahsatu hal terpenting yang saya dapat dari AYSF: bahwa saya masih harus belajar banyak soal tatakrama. Umm.. this is too embarassing to tell. Terlalu memalukan buat diceritain disini. Tapi yang penting saya sadar bahwa belajar tatakrama itu penting, dan saya masih harus belajar banyak tentangnya. Sekian. #nyehh #abaikan
Senin, 28 November 2011
Good Job! Tapi Masih Bertapi
SEA Games akhirnya selesai juga. Ditutup Selasa pekan kemarin. Konsernya megah! Nggak kalah meriah sama konser pembukaannya.
Lagi-lagi saya ucapin selamat buat dalangnya dibalik konser spektakuler ini, om @indrayr. Juga buat om Erwin Gutawa sebagai panglima pasukan orkestra yang luar biasa, buat para penyanyinya juga, ada mas @afgansyah_reza, mbak @agnezmo, dan masih banyak yang nggak bisa disebutin satu-satu disini. Buat para penarinya juga. Dan buat Kemenpora, KONI, INASOC, dan para sponsor sebagai penyelenggara acara besar ini.
Oh iya, jangan lupain juga para tukang batu, tukang las, polisi, tentara, tukang kayu, tukang sapu, tukang ledeng, hansip, satpam, dan para sukarelawan yang atas kerja keras mereka, SEA Games ini dapat berjalan lancar.
Buat kontingen SEA Games Indonesia, selamat ya atas juara umumnya! Akhirnya setelah sekian lama, kita rebut lagi gelar juara umum. Yaa walaupun agak hambar, gara-gara kalah sama Malaysia di cabang sepakbola, dan nggak dapet medali emas. Tapi nggak apa-apalah, kita bales mereka nanti di AFF Cup 2012, dan SEA Games 2013!
Tapi, mungkin udah bukan berita heboh lagi. Baru hari pertama SEA Games, sebuah koran luar (Singapura atau Filipina gitu, lupa) bilang, SEA Games ke-26 ini adalah SEA Games terburuk sepanjang sejarah. Katanya, fasilitasnya masih banyak yang belom siap. Malah waktu para atlet sama wartawan udah pada dateng, masih keliatan tukang-tukang yang kerja. Semoga para penyelenggara bisa ngambil pelajaran biar SEA Games berikut-berikutnya yang diselenggarain di Indonesia bisa berjalan lebih baik lagi.
Dan juga buat mbak @agnezmo. Aduh mbaak, itu konser penutupan ditonton anak kecil juga kali mbaak.. #kode #ngertisendirilah
Sekarang, tugas buat kontingen Indonesia: pertahankan gelar juara umum itu di SEA Games berikutnya. Kami para pendukung akan selalu menyemangati kalian. Maju terus, IN-DO-NE-SIA!
Lagi-lagi saya ucapin selamat buat dalangnya dibalik konser spektakuler ini, om @indrayr. Juga buat om Erwin Gutawa sebagai panglima pasukan orkestra yang luar biasa, buat para penyanyinya juga, ada mas @afgansyah_reza, mbak @agnezmo, dan masih banyak yang nggak bisa disebutin satu-satu disini. Buat para penarinya juga. Dan buat Kemenpora, KONI, INASOC, dan para sponsor sebagai penyelenggara acara besar ini.
Oh iya, jangan lupain juga para tukang batu, tukang las, polisi, tentara, tukang kayu, tukang sapu, tukang ledeng, hansip, satpam, dan para sukarelawan yang atas kerja keras mereka, SEA Games ini dapat berjalan lancar.
Buat kontingen SEA Games Indonesia, selamat ya atas juara umumnya! Akhirnya setelah sekian lama, kita rebut lagi gelar juara umum. Yaa walaupun agak hambar, gara-gara kalah sama Malaysia di cabang sepakbola, dan nggak dapet medali emas. Tapi nggak apa-apalah, kita bales mereka nanti di AFF Cup 2012, dan SEA Games 2013!
Tapi, mungkin udah bukan berita heboh lagi. Baru hari pertama SEA Games, sebuah koran luar (Singapura atau Filipina gitu, lupa) bilang, SEA Games ke-26 ini adalah SEA Games terburuk sepanjang sejarah. Katanya, fasilitasnya masih banyak yang belom siap. Malah waktu para atlet sama wartawan udah pada dateng, masih keliatan tukang-tukang yang kerja. Semoga para penyelenggara bisa ngambil pelajaran biar SEA Games berikut-berikutnya yang diselenggarain di Indonesia bisa berjalan lebih baik lagi.
Dan juga buat mbak @agnezmo. Aduh mbaak, itu konser penutupan ditonton anak kecil juga kali mbaak.. #kode #ngertisendirilah
Sekarang, tugas buat kontingen Indonesia: pertahankan gelar juara umum itu di SEA Games berikutnya. Kami para pendukung akan selalu menyemangati kalian. Maju terus, IN-DO-NE-SIA!
Minggu, 20 November 2011
Perdagangan yang Berkah
Dari Abu Qatadah r.a, bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian dari sifat banyak bersumpah dalam jual beli, karena sumpah itu memberikan keuntungan, tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR. Muslim No. 1607).. Pelajaran Hadist :
Salah satu hal yang diajarkan oleh Rasulullah dalam upaya mendapatkan rezeki yang halal dalam mencari keberkahan dalam usaha atau perdagangan adalah dengan cara meninggalkan sumpah.
Sumpah dalam agama ini hanya digunakan dalam kondisi terdesak. Sementara penggunaannya untuk tujuan menarik perhatian orang dengan cara berbohong dengan mempergunakan kata “sumpah” adalah perbuatan tercela. Kerap kali kita dapati beberapa orang pedagang mencoba meyakinkan pembeli dengan ucapan, "Sumpah... saya beli barang tersebut tidak ada cacatnya sedikitpun!" atau kalimat seperti ini, "Sumpah demi Allah... modalnya saja gak cukup dengan uang segitu!" Padahal dia tahu bahwa apa yang ditawar oleh pembeli sudah memberikan keuntungan untuknya, namun dengan cara sumpah ia berharap meraih keuntungan yang lebih besar.
Rasulullah saw. menyikapi kebiasaan para pedagang ini dengan sebuah pernyataan yang tegas seperti hadits di atas.
“Jauhilah oleh kalian dari sifat banyak bersumpah dalam jual beli, karena sumpah itu memberikan keuntungan, tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR. Muslim No. 1607)..
Dalam hadits lain Rasululullah saw. bersabda:
"Ada tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah. Allah juga tidak akan melihat mereka, dan tidak pula mengampuni dosa mereka bahkan mereka akan mendapat siksaan yang pedih. " Rasululah saw. mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzar berkata: "Alangkah kecewa dan ruginya mereka. Wahai Rasulullah, siapakah mereka?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menurunkan (kainnya), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan menggunakan sumpah palsu." (HR. Muslim).
Membuka Pintu Rezeki dengan Berdagang
Berdagang adalah ikhtiar. Berikhtiar dengan hati, pikiran, jerih-payah dan usaha. Ia telah mulai dikenal oleh manusia dari sejak dahulu kala. Bahkan para nabiyullah alaihimussalam pun banyak yang menjadi seorang pedagang.
Berbeda dengan kebanyakan profesi yang dijalankan manusia untuk mencari nafkah, perdagangan adalah satu jenis usaha atau ikhtiar yang memiliki banyak resiko. Ia menyita segenap potensi yang dimiliki seseorang, hingga yang sungguh-sungguh dalam berdagang maka ia akan dibukakan pintu rezeki yang lebar. Sementara yang setengah hati akan mendapati kerugian dan kesulitan. Namun berdagang adalah salah satu ikhtiar pencarian rezeki yang dapat membuka pintu rezeki dengan mudah.
Dalam Islam, transaksi perdagangan amat dianjurkan karena ia berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Bahkan agama ini mengatur dengan baik segala seluk-beluk jual beli dalam berdagang. Sehingga lewat perdagangan yang baik akan turun banyak keberkahan dan kemaslahatan, bukan hanya untuk si pedagang namun juga dapat dirasakan oleh konsumen atau pembeli.
Antharadin, Sama-Sama Senang
Perdagangan dalam Islam masuk dalam hubungan/transaksi sesama manusia. Kaidah yang dipakai dalam segala urusan muamalat adalah, "Semua hal dalam muamalat adalah ibahah (boleh), selagi tidak ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”
Lewat kaidah yang tersebut di atas, maka jenis transaksi perdagangan apapun juga dipersilakan selagi tidak bersinggungan dengan dalil-dalil dari ayat Al-Qur'an atau hadits Rasulullah saw. yang melarang transaksi tersebut. Karena ini masuk dalam bab muamalat, maka prinsipnya adalah lakukan apa saja selagi tidak merugikan orang lain atau siapapun juga.
Rasulullah saw. menetapkan prinsip perdagangan yang diperbolehkan adalah Antharadin, prinsip suka sama suka atau sama-sama senang. Baik kesenangan itu dirasakan oleh pedagang atau pun pembeli. Hal tersebut juga didasarkan dalam Q.S An Nisa : 29 yang berbunyi."Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(Q.S. An Nisa [4] : 29).
Sabda Rasulullah saw. "Perdagangan itu harus suka sama suka (antharadin). Akan tetapi dalam perdagangan yang kalian lakukan aku dapati ada hal-hal yang kurang beres dan perlu aku sebutkan. Janganlah kalian saling benci, janganlah saling dengki. Jangan seseorang barang yang sudah ditawar oleh saudaranya. Orang kota jangan menjual langsung ke orang desa. Perdagangan itu haruslah antharadin. Maka jadilah kalian para hamba-hamba Allah yang bersaudara." (H.R. Ibnu Hibban)
Biasanya ada pedagang yang berusaha untuk mempengaruhi pembeli agar kemudian menjadi senang dengan barang dagangannya dan sepakat dengan harga yang ditawarkan. Karena si pedagang mengatakan kata-kata sumpah. “Sumpah, demi Allah barang ini betul-betul bagus, dan harganya pun sudah harga murah dibandingkan dengan toko yang lain. Tapi kenyataannya, barang itu tidak sebaik dan semurah yang dikatakannya. Hal ini yang oleh Rasulullah diberi peringatan dengan hadits di atas. Karena upaya dengan sumpah itu akan mengakibatkan rejeki yang kita dapatkan dari penjualan barang tersebut tidak barakah.
Semoga peringatan Rasulullah saw. itu dapat selalu kita jadikan pegangan apabila kita melakukan transaksi perdagangan dengan orang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha mendapatkan rejeki yang barakah. (As).
(sumber: http://majalah.nurhidayahsolo.com/index.php/mutiara-hadits/632-perdagangan-yang-berkah.html)
Salah satu hal yang diajarkan oleh Rasulullah dalam upaya mendapatkan rezeki yang halal dalam mencari keberkahan dalam usaha atau perdagangan adalah dengan cara meninggalkan sumpah.
Sumpah dalam agama ini hanya digunakan dalam kondisi terdesak. Sementara penggunaannya untuk tujuan menarik perhatian orang dengan cara berbohong dengan mempergunakan kata “sumpah” adalah perbuatan tercela. Kerap kali kita dapati beberapa orang pedagang mencoba meyakinkan pembeli dengan ucapan, "Sumpah... saya beli barang tersebut tidak ada cacatnya sedikitpun!" atau kalimat seperti ini, "Sumpah demi Allah... modalnya saja gak cukup dengan uang segitu!" Padahal dia tahu bahwa apa yang ditawar oleh pembeli sudah memberikan keuntungan untuknya, namun dengan cara sumpah ia berharap meraih keuntungan yang lebih besar.
Rasulullah saw. menyikapi kebiasaan para pedagang ini dengan sebuah pernyataan yang tegas seperti hadits di atas.
“Jauhilah oleh kalian dari sifat banyak bersumpah dalam jual beli, karena sumpah itu memberikan keuntungan, tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR. Muslim No. 1607)..
Dalam hadits lain Rasululullah saw. bersabda:
"Ada tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah. Allah juga tidak akan melihat mereka, dan tidak pula mengampuni dosa mereka bahkan mereka akan mendapat siksaan yang pedih. " Rasululah saw. mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzar berkata: "Alangkah kecewa dan ruginya mereka. Wahai Rasulullah, siapakah mereka?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menurunkan (kainnya), orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan menggunakan sumpah palsu." (HR. Muslim).
Membuka Pintu Rezeki dengan Berdagang
Berdagang adalah ikhtiar. Berikhtiar dengan hati, pikiran, jerih-payah dan usaha. Ia telah mulai dikenal oleh manusia dari sejak dahulu kala. Bahkan para nabiyullah alaihimussalam pun banyak yang menjadi seorang pedagang.
Berbeda dengan kebanyakan profesi yang dijalankan manusia untuk mencari nafkah, perdagangan adalah satu jenis usaha atau ikhtiar yang memiliki banyak resiko. Ia menyita segenap potensi yang dimiliki seseorang, hingga yang sungguh-sungguh dalam berdagang maka ia akan dibukakan pintu rezeki yang lebar. Sementara yang setengah hati akan mendapati kerugian dan kesulitan. Namun berdagang adalah salah satu ikhtiar pencarian rezeki yang dapat membuka pintu rezeki dengan mudah.
Dalam Islam, transaksi perdagangan amat dianjurkan karena ia berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Bahkan agama ini mengatur dengan baik segala seluk-beluk jual beli dalam berdagang. Sehingga lewat perdagangan yang baik akan turun banyak keberkahan dan kemaslahatan, bukan hanya untuk si pedagang namun juga dapat dirasakan oleh konsumen atau pembeli.
Antharadin, Sama-Sama Senang
Perdagangan dalam Islam masuk dalam hubungan/transaksi sesama manusia. Kaidah yang dipakai dalam segala urusan muamalat adalah, "Semua hal dalam muamalat adalah ibahah (boleh), selagi tidak ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”
Lewat kaidah yang tersebut di atas, maka jenis transaksi perdagangan apapun juga dipersilakan selagi tidak bersinggungan dengan dalil-dalil dari ayat Al-Qur'an atau hadits Rasulullah saw. yang melarang transaksi tersebut. Karena ini masuk dalam bab muamalat, maka prinsipnya adalah lakukan apa saja selagi tidak merugikan orang lain atau siapapun juga.
Rasulullah saw. menetapkan prinsip perdagangan yang diperbolehkan adalah Antharadin, prinsip suka sama suka atau sama-sama senang. Baik kesenangan itu dirasakan oleh pedagang atau pun pembeli. Hal tersebut juga didasarkan dalam Q.S An Nisa : 29 yang berbunyi."Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(Q.S. An Nisa [4] : 29).
Sabda Rasulullah saw. "Perdagangan itu harus suka sama suka (antharadin). Akan tetapi dalam perdagangan yang kalian lakukan aku dapati ada hal-hal yang kurang beres dan perlu aku sebutkan. Janganlah kalian saling benci, janganlah saling dengki. Jangan seseorang barang yang sudah ditawar oleh saudaranya. Orang kota jangan menjual langsung ke orang desa. Perdagangan itu haruslah antharadin. Maka jadilah kalian para hamba-hamba Allah yang bersaudara." (H.R. Ibnu Hibban)
Biasanya ada pedagang yang berusaha untuk mempengaruhi pembeli agar kemudian menjadi senang dengan barang dagangannya dan sepakat dengan harga yang ditawarkan. Karena si pedagang mengatakan kata-kata sumpah. “Sumpah, demi Allah barang ini betul-betul bagus, dan harganya pun sudah harga murah dibandingkan dengan toko yang lain. Tapi kenyataannya, barang itu tidak sebaik dan semurah yang dikatakannya. Hal ini yang oleh Rasulullah diberi peringatan dengan hadits di atas. Karena upaya dengan sumpah itu akan mengakibatkan rejeki yang kita dapatkan dari penjualan barang tersebut tidak barakah.
Semoga peringatan Rasulullah saw. itu dapat selalu kita jadikan pegangan apabila kita melakukan transaksi perdagangan dengan orang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha mendapatkan rejeki yang barakah. (As).
(sumber: http://majalah.nurhidayahsolo.com/index.php/mutiara-hadits/632-perdagangan-yang-berkah.html)
Tasamuh
Adalah sebuah nikmat dan anugerah yang besar, kita hidup di Indonesia. Sebuah bangsa yang sangat berwarna. Berbagai suku, agama, dan ras menjadi bagian di dalamnya. Tapi sayang, nggak semua orang bisa ngerti tentang keanekaragamannya.
Keliatannya ada satu sifat yang mulai hilang dari bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Sifat tasamuh. Singkatnya, tasamuh itu sikap toleransi, atau menghargai dan menghormati perbedaan.
Apa buktinya sifat tasamuh mulai hilang? Nggak usah jauh-jauh ke masalah luar negeri. Di dalem negeri aja. Masih banyak gereja dibom, terorisme yang tagetnya orang-orang non-muslim. Well, nggak cuma umat Islam yang ngelakuin hal-hal semacem itu. Mungkin kaum radikalis umat agama lain juga begitu, cuma lebih jarang disorot media.
Buat kaum radikalis Islam, coba dicek lagi al-Quran-nya surat al-Hujurat ayat 13.
"...dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..." kita sengaja diciptain Allah dalam keadaan berbeda-beda. Ada orang Jawa, ada orang Bali, ada orang Melayu, ada orang Papua. Ada kulit hitam, kulit putih, kulit coklat, ada juga yang kulit kuning. Ada yang logat bicaranya halus, ada juga yang agak kasar. Apa tujuannya? Biar kita semua saling mengenal dan menghargai, bukan buat ditentang.
"...sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu..." jadi seluruh manusia itu setara. Nggak ada suku A lebih baik dari suku B, negara A lebih baik dari negara B, dll. Yang jadi tolok ukur mana-yang-lebih-baik itu ketakwaannya di sisi Allah.
Udah jelas dari satu ayat itu tentang sikap tasamuh. Jadi nggak perlu ada lagi yang namanya terorisme berkedok jihad. Jihad itu memberantas kekafiran, bukan memberantas orang kafir. Caranya? Ya berdakwah, bukan ngebom sana-sini sampe orang yang nggak salah apa-apa ikut jadi korban.
Tapi khusus toleransi beragama, Islam punya aturan sendiri, di surat al-Kafirun. "...untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku," jadi dalam hal agama kita cuma boleh menghargai aja, nggak sampe ikut-ikutan dalam hal akidah, meskipun alesannya buat menghormati. Cukup kita jangan menghina atau ngeganggu mereka yang lagi ibadah.
Ternyata hilangnya sikap tasamuh nggak cuma terjadi dalam hal beragama. Dalam hal politik dan kewarganegaraan juga. Masih sering kita temuin kasus rasisme. Kasus rasisme mungkin bakal sering kita temuin di negara-negara Barat yang masih ada kesenjangan yang lebar di antara si kulit putih dengan si kulit hitam.
Buat siapapun yang baca ini: stop racism and terrorism!
Keliatannya ada satu sifat yang mulai hilang dari bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Sifat tasamuh. Singkatnya, tasamuh itu sikap toleransi, atau menghargai dan menghormati perbedaan.
Apa buktinya sifat tasamuh mulai hilang? Nggak usah jauh-jauh ke masalah luar negeri. Di dalem negeri aja. Masih banyak gereja dibom, terorisme yang tagetnya orang-orang non-muslim. Well, nggak cuma umat Islam yang ngelakuin hal-hal semacem itu. Mungkin kaum radikalis umat agama lain juga begitu, cuma lebih jarang disorot media.
Buat kaum radikalis Islam, coba dicek lagi al-Quran-nya surat al-Hujurat ayat 13.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."Nggak usah dijelasin panjang lebar, di ayat itu udah jelas tentang tasamuh. "...sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan..." kita sebagai umat manusia, diciptain Allah sebagai saudara. Dari seorang ayah dan seorang ibu yang sama, yaitu nabi Adam as. dan Siti Hawa. Jadi sebagai saudara, kita nggak pantes musuhan.
"...dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..." kita sengaja diciptain Allah dalam keadaan berbeda-beda. Ada orang Jawa, ada orang Bali, ada orang Melayu, ada orang Papua. Ada kulit hitam, kulit putih, kulit coklat, ada juga yang kulit kuning. Ada yang logat bicaranya halus, ada juga yang agak kasar. Apa tujuannya? Biar kita semua saling mengenal dan menghargai, bukan buat ditentang.
"...sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu..." jadi seluruh manusia itu setara. Nggak ada suku A lebih baik dari suku B, negara A lebih baik dari negara B, dll. Yang jadi tolok ukur mana-yang-lebih-baik itu ketakwaannya di sisi Allah.
Udah jelas dari satu ayat itu tentang sikap tasamuh. Jadi nggak perlu ada lagi yang namanya terorisme berkedok jihad. Jihad itu memberantas kekafiran, bukan memberantas orang kafir. Caranya? Ya berdakwah, bukan ngebom sana-sini sampe orang yang nggak salah apa-apa ikut jadi korban.
Tapi khusus toleransi beragama, Islam punya aturan sendiri, di surat al-Kafirun. "...untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku," jadi dalam hal agama kita cuma boleh menghargai aja, nggak sampe ikut-ikutan dalam hal akidah, meskipun alesannya buat menghormati. Cukup kita jangan menghina atau ngeganggu mereka yang lagi ibadah.
Ternyata hilangnya sikap tasamuh nggak cuma terjadi dalam hal beragama. Dalam hal politik dan kewarganegaraan juga. Masih sering kita temuin kasus rasisme. Kasus rasisme mungkin bakal sering kita temuin di negara-negara Barat yang masih ada kesenjangan yang lebar di antara si kulit putih dengan si kulit hitam.
Buat siapapun yang baca ini: stop racism and terrorism!
Langganan:
Postingan (Atom)